Anak Jaman Sekarang – Orang Tua Jaman Sekarang

“Weleh, anak jaman sekarang.” Cukup sering saya dengar kalimat seperti ini, disertai dengan cerita tentang suatu dan lain hal jaman dulu. Terdengar seperti merendahkan tapi tidak juga. Seakan-akan julukan “anak jaman sekarang” punya kesan yang negatif.

Saya anggak “anak jaman sekarang” yang disebut-sebut oleh “orang tua jaman dulu” terbagi 2: (1) beneran anak-anak yang belum/masih SD, belum baligh, masih minta uang jajan tiap hari, pulang dari sekolah baju kotor. (2) anak-anak generasi “Y” yang mereka besar di saat internet baru mulai naik daun, yang mungkin mereka sudah punya anak di kelompok nomor (1), generasi transisi. Di sini yang saya maksud dengan “anak jaman sekarang” adalah yang di grup nomor (1), dimana “orang tua jaman sekarang” ada di grup nomor (2), dan “orang tua jaman dulu” adalah orang tua dan kakek-nenek mereka.

Kembali ke topik. Saya termasuk di generasi Y, yang mana masa kecil masih sempat main PS 1 dan handphone Nokia 3310 baru muncul (tapi tidak punya). Sekarang sudah punya “toddler jaman sekarang”. Hahah. Berhubung di Enschede ini warga Indonesianya lumayan kompak, kami sering bertemu dalam kesempatan apapun. Semua generasi dan latar belakang sosial berkerumun jadi satu. Nah, kalau sudah mulai cerita, muncullah kata-kata “anak jaman sekarang”, disertai dengan keluh kesah masing-masing.

Ada yang mengeluh “anak jaman sekarang” (1) cuma bisa main game tiap hari, tidak bisa main ke luar rumah; (2) tidak mengenal tradisi dan budaya leluhur; (3) tidak bisa bantu-bantu di rumah; bahkan (4) tidak bisa bahasa Indonesia; dsb. Sayangnya intonasi penyampaian cerita mereka kebanyakan negatif.

Saya tergelitik dengan kata-kata seperti itu, karena lucu disertai sedikit kasian. 🙂 Perjuangan orang tua jaman dulu memang sangat berat. Makan 1 telur aja harus dibagi 5 anak-anaknya dan mereka baru boleh makan kalau orang tua sudah kenyang, bayi dikasih minum air tajin (air sisa cucian beras), anak-anak langsung diam kalau dipelototin orang tua, dll. Semuanya real story.

Nah, tradisi memang tradisi. Jaman sekarang, kami para generasi Y dan seterusnya, punya akses jauh lebih luas terhadap hiruk pikuk dunia, salah satunya adalah bidang kelimuan. Dari sana kami bisa belajar lebih banyak dengan lebih cepat, walaupun masih sekedar “bisa” yang maksudnya “belum tentu”. ;p

Sekarang, kalau kita menghadapi sebuah masalah, buka HP bentar, googling, cari solusi. Baik itu solusi praktis maupun sosial, baik itu dari pengalaman orang di blog, jurnal akademik, maupun situs-situs tanya jawab bidang agama.

Sekarang kita tahu, anak yang dekat dengan bapaknya lebih tenang, unggul secara sosial dan akademis, dan lebih stabil secara emosi (sumber). Sekarang kita tahu kalau mengubur ari-ari tidak harus mikir apakah yang lahir perempuan atau laki-laki sehingga kuburnya di sebelah kanan atau kiri pintu rumah, cukup dibersihkan dan dikubur (sumber) tanpa alat tulis dan lampu. Sekarang kita tahu, anak jangan dibesarkan sebagai seorang penurut (sumber) karena dampaknya untuk masa depannya bahaya (sumber). Sekarang kita tahu, main game ada positifnya juga untuk anak (sumber). Sekarang kita juga tahu, kalau bicara harus ada dasarnya. 🙂

Menurut saya, kita sekarang sudah ke arah yang benar. Sebagian porsi besar “anak jaman sekarang” adalah dari “orang tua jaman dulu” yang mana apa-apa berdasarkan tradisi nenek moyang yang bisa dipertanyakan tujuannya. Namun kami bisa berbenah dengan adanya akses terhadap apapun. Semoga generasi berikutnya bisa lebih maju.

Leave a Reply