Bapak Stein

Suatu sore kami berbelanja di LIDL, sebuah swalayan yang lumayan terkenal di kalangan mahasiswa Eropa. Seorang bapak tua menghampiri kami dan menanyakan “Orang Indonesia?” “Iya Pak” “Saya juga”. Kata-kata awal yang membuka percakapan selama setengah jam di depan freezer es krim.

Beliau lahir di Surabaya pada tahun 1935, yang berarti pada saat kemerdekaan sudah berumur 10 tahun, sekarang sudah 82 tahun tapi perawakan dan gaya bicara seperti umur 50. “Panggil saya Pak Stein saja”. Nama keluarga yang didapat dari Ayahnya yang orang Jerman. Mempunyai istri dari Makasar dan 5 orang anak.

Tidak seperti mukimin pada umumnya, panggilan untuk seseorang yang sudah menetap di Eropa, bahasa Indonesia beliau sangat lancar dan baku, bahkan bahasa Jawanya masih bisa. Cerita panjang lebar kemana-mana harus kami potong karena ada acara lain dan sudah capek berdiri “Pak, kalau ada acara kumpul-kumpul orang Indonesia apakah mau ikut?” “Wah, saya akan senang sekali” Beliau memberikan alamat rumahnya saja karena lupa nomor telepon.

Sampai tadi sore baru saya dan Pak Dhadhang, ketua IMEA saat ini, bertamu ke rumahnya, tanpa membuat janji. “Wah, kamu yang pas itu ketemu di LIDL ya?” Sambil menunjuk saya dan mempersilakan kami untuk masuk. Untuk umur 82 ingatannya masih sangat tajam.

Dari luar rumahnya terlihat seperti rumah gaya orang Belanda pada umumnya, dempet-dempet dan kanan kiri tidak ada yang beda. Saat sudah masuk, nuansa rumahnya mengingatkan saya seperti rumah kakek-nenek di Indonesia. Bersih, nyaman, banyak tempat duduk, sederhana.

Setelah kami duduk, beliau bercerita lagi, kali ini tentang asal usul beliau. Sampai tahun 1956 baru pindah ke Belanda, pantas bahasa Indonesianya masih lancar. Orang tua dari ibunya 100% Jawa, dan ayahnya Indo, sebutan seseorang yang mempunyai darah campuran Indonesia-Eropa, sehingga membuat dirinya 75% berdarah Indonesia. Kadang kalau liburan ke Indonesia bisa sampai 6 bulan. Anak-anaknya yang sudah tua-tua juga, anak kedua sudah pensiun (seorang kapten kapal besar), anak ketiganya seorang kolonel yang kalau pensiun akan jadi jenderal, anak-anaknya yang lain juga tidak kalah hebatnya, tapi lupa ceritanya..hahah.

Cerita masih berlanjut dari jaman Soekarno beliau sempat ditahan, tentang agama, kemiskinan, korupsi, pejabat yang tidak amanah, penjajahan Jepang & Belanda, kemerdekaan Indonesia karena bantuan Amerika, dll.

Cerita-cerita yang tidak mungkin didapat di bangku sekolah. Hanya ada dari orang-orang yang sudah mengalaminya langsung dan sudah melewati pahitnya hidup sehingga mereka bisa cerita dari sisi yang netral.

Akhirnya kami pun harus memotongnya lagi “Pak, apakah bisa kami undang untuk acara makan-makan nanti tanggal 3 September?” “Wah, bisa-bisa” Beliau mengambil secarik kertas kecil hasil potongan kertas dari buku tulis, khas orang tua, dan pensil untuk menuliskan nomor telepon beliau. Lagi-lagi saya mengagumi kesehatan beliau yang masih bisa menulis pada umur tersebut. Saya pun memberikan nomor HP saya dan menjanjikan akan menjemput beliau. “Tidak usah, saya nanti ke sana sendiri bisa” “Naik apa pak? Diantar (anak)?” “Oh, saya bisa nyetir” Sambil menunjuk sebuah mobil Fiat Punto di parkiran depan rumah. Ternyata beliau masih bisa nyetir mobil, bahkan masih sering dan masih sampai Den Haag (sekitar 200 km dengan lebih dari 2 jam perjalanan). Wow! Kemandirian dan kebugaran yang luar biasa!

Akhirnya kami pamit pulang. Masih banyak orang-orang di kota kecil ini yang ternyata luar biasa.

Penampakan beliau saat bercerita:

 

Leave a Reply