“Bathi Ra Kudu Dhuwit”

Terlontar kalimat jawaban dari salah satu pedagang di pasar Kolombo, Jogja. Si pembeli mempertanyakan dapat untung dari mana jual bayam Rp 500,- seikat.
“Untung tidak harus uang.” Jawaban yang sangat filosofis dan penuh makna.
Namun ternyata memang seperti ini adanya sikap orang Jogja. Mencari rezeki tanpa menghitung datangnya darimana. Mungkin ini salah satu sebab kenapa sangat mudah ditemukan warung-warung makan yang menyediakan santapan enak tapi murah.
Es campur depan Batalyon 403 juga begitu. Mug besar yang penuh dengan agar-agar, rumput laut, dawet, dan es jika di Jakarta harganya Rp 10000 (kaki lima) atau Rp 15000 (mal), di sini hanya Rp 3500. Itupun saat hendak membayar, si pedagang dengan sangat tunduknya meminta maaf karena ada kenaikan Rp 500. Padahal tempatnya luas, bersih, rindang, dan sangat startegis.
Terlihat bagi mereka topik-topik perdebatan di TV tentang kemajuan perekonomian Indonesia sama saja seperti sinetron. Hanya sajian sore hari yang maya. Penuh dengan fancy words yang berguna untuk menambah kosa kata bagi anak-anaknya untuk mengarang bebas di ujian PKN.

by Aden

Leave a Reply