Berjualan Sepeda di Belanda

Belanda terkenal dengan jumlah sepedanya hampir sama dengan jumkah penduduknya. Hal ini disebabkan bantam faktor, di antaranya adalah dukungan infrastruktur dan kondisi jalanan Belanda yang cenderung rata. Nah, karena alasan ini juga, para mahasiswa rata-rata punya dan menggunakan sepeda sehari-hari. Di tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman dan tips-tips dalam berjualan sepeda.

Di kota Enschede ini banyak senior-senior lain yang sudah berkecimpung di mata pencaharian ini, saya baru berpengalaman lebih dari 1 tahun, sekitar 3 periode intake baru. Ada beberapa poin pengalaman yang semoga bermanfaat:

1. Tempat beli. Tentu kita sudah tahu grup facebook kampus, kalau belum, wajib join. Selain bisa jadi secondary source untuk pembelian sepeda, juga merupakan primary market untuk penjualan sepeda. Selain itu, cari di marktplaats.nl. Sumber sepeda paling banyak dan cenderung bisa dinego.

2. Waktu beli. Secara logika yang paling menguntungkan adalah menunggu pasar penjualan untuk turun harganya. Kalau di grup kampus biasanya saat akhir semester (Januari & Agustus). Banyak yang mau jual cepat karena takut jadi uang mati kalau tidak terjual. Namun kalau beli dari sesama mahasiswa, biasanya mereka taruh harga hanya sedikit lebih murah saat mereka beli. Beda dengan di marktplaats atau grup facebook lainnya. Kecenderungannya bisa lebih murah. Selain itu fluktuasi harga pasar berbeda. Sekitar musim akhir musim semi justru banyak pilihan sepeda dengan harga yang rendah.

3. Tipe sepeda. Untuk permulaan pilih sepeda yang paling mudah laku. Biasanya city bike dengan ukuran roda 28″ atau 26″. Tergantung target pasar, dibahas di poin 7.

4. Modal alat. Wajib hukumnya. Modal untuk alat yang mencukupi untuk kebutuhan mendasar sekitar 50 Euro. Kalau tidak bisa/ berani dalam sekali pembelian bisa bertahap. Untuk tahap 1 & 2 dan barang habis bisa belanja di toko seperti Action:

  • tahap 1: Kunci pas ukuran 10, 13, 15. Satu set allen key. Satu set obeng. Kunci-kunci ini untuk menset tinggi sedel, ganti lampu/ baterainya. Pompa.
  • tahap 2: Kunci pas ukuran lainnya (8, 10 lagi, 12, 14 15 lagi). Set tambal ban (terutama congkelan). Sarung tangan. Tang jepit & tang potong.
  • tahap 3: Kebutuhan spesifik sepeda yang perlu beli di toko sepeda (online biasanya lebih murah). Pemutus rantai. Pembuka crankset. Dll.
  • barang habis: Baterai AA. Cable ties. WD40. Chain lube. Wax. Ban dalam (dan luar saat dibutuhkan). Set lampu. Ponco untuk bonus.

5. Waktu jual. Rasanya menarik untuk menimbun barang sampai waktu intake baru agar harga naik. Namun langkah seperti ini tidak disarankan karena alasan etika maupun agama. Selain itu, penimbunan aset hanya menghambat cashflow dan bisa jadi sepeda rusak karena penyimpanan. Disarankan untuk menjual kapanpun sepeda siap. Pasar pembeli selalu ada, tidak hanya saat intake.

6. Tempat jual. Dari beberapa pengalaman pahit, jangan terima order antar sepeda. Apalagi saat waktu intake dengan mahasiswa baru. Biasanya mereka hanya melihat-lihat. Waste of time and energy. Disarankan untuk temu di lokasi sepeda atau sekitaran. Kalau tinggal dalam kampus masih bisa delivery around campus.

7. Stereotype pembeli. Awalnya berusaha open-minded ke siapapun. Namanya pembeli adalah raja, darimanapun asalnya. Namun setelah lebih dari 1 tahun belakang ada beberapa sifat-sifat yang khas tiap individu dari kultur yang sama, terutama mahasiswa baru:

  • Indonesia: rata-rata pernah naik sepeda saat kecil atau tidak bisa hampir sama sekali. Masih terbawa mindset dari Indonesia bahwa sepeda bagus harganya bisa dapat 1 juta dari toko pengkolan. Dan saat lihat sepeda cari yang murah and try to life with it until the end. Ceritanya mau hemat. Kecuali yang dari Indonesia memang hobi sepeda. Yang minta after service juga banyak. Mungkin karena bahasanya lebih gampang. Tipe sepeda yang disukai orang Indonesia biasanya bukan yang pedal-break karena kurang familiar. Perempuan biasanya suka sepeda yang pendek yang bisa napak ke tanah sambil duduk walaupun akan melelahkan untuk ke depannya, akhirnya nanti beli sepeda yang lebih besar lagi. Khusus untuk orang Indonesia, saya biasanya kasih harga lebih murah, rata-rata 10% dari yang dipasarkan di grup facebook.
  • Timur tengah, terutama Iran: Sepeda akan dinego sampai kita mempertanyakan apalah arti semua ini. Kadang sambil menjelek-jelekan barang. Tapi memang sepert itu budaya mereka, bernegosiasi. Kecenderungannya beli sepeda yang bagus. Pilihan sepedanya mirip dengan orang Indonesia, ditambah dengan concern ada atau tidaknya gear. Tipe sepeda yang disukai biasanya city bike.
  • Asia, terutama Cina & India: Rata-rata baik dan sopan. Sering sambil diajak ngobrol. Mungkin karena sesama perjuangan. Kalau ada sepeda yang mereka suka, akan dinego halus. Banyak perempuan asia yang membutuhkan sepeda pendek, ukuran 26″ atau bahkan 24″. Pasar ini sangat terbuka lebar karena orang Eropa jarang melihat ke kompetisi ini. Tipe sepeda pilihan: mountain-bike untuk cowok dan city bike untuk perempuan. Tas sepeda adalah poin lebih buat teman-teman Asia.
  • Eropa timur: It works. It’s cheap. I’ll take it. Gambaran kasarnya seperti itu. Kadang ada nego tapi kalau udah ok ya diambil. Rata-rata tertarik city bike. Teman-teman Eropa Timur cenderung bisa menggunakan pedal-break. Berhubung lebih suka yang murah, biasanya sepeda-sepeda tua.
  • Eropa lainnya: 5 menit: 1 menit ketemu, 2 menit coba, 1 menit setel sedel, 1 menit bayar. Nego dan tanya-tanya kondisi biasanya saat chatting. Mirip dengan Eropa Timur tapi rata-rata mau sepeda yang lebih baru jika ada pilihan.

8. Pricing. Ada 4 cara dan 3 tahap dalam penentuan harga. Cara-caranya:

  • Cost-plus pricing method. Penentuan harga berdasarkan modal dasar yang dikeluarkan. Modal adalah harga sepeda+transportasi pengambilan+spare part. Modal ini dikalikan dengan, misalnya, 1.2 atau 1.3. Jangan lupa untuk kasih ruang nego, mungkin bisa tambahkan 10 Euro.
  • Market-based pricing method. Harga jual tergantung harga pasar. Harga pasar biasanya stabil, dengan beberapa abnormalities. Ikuti harga pasar dengan membandingkan kondisi, jumlah gear, ukuran sepeda, lampu, kelengkapan, dll.
  • Perceived-value pricing method. Kasarnya adalah berapapun pembeli mau bayar. Biasanya user akan mau bayar lebih saat terdorong pasar yang supplynya sedikit saat demandnya banyak, terutama saat intake baru. Rata-rata saat intake, user lihat sepeda dan pikir-pikir lagi baru besoknya beli yang ternyata sudah diambil orang lain. Pengalaman buruk seperti ini membuat pembeli cenderung tergesa-gesa untuk membeli dan harga berapapun terlihat wajar. Tapi jangan juga ‘Aji Mumpung’, karena user akan merasakan mahal-murahnya sepeda yang dibeli setelah membandingkan dengan harga sepeda teman-temannya dan akan berdampak pada reputasi penjual.
  • Value-added pricing method. Mirip dengan perceived-value pricing tapi tidak bergantung pada musim. Adding value bisa dengan memberikan garansi lebih, contohnya adalah free tune up dalam waktu 1 bulan, pembelian kembali sepeda setelah 1 semester (dengan harga yang lebih rendah tentunya), dll. Saya pribadi tidak menyediakan garansi after service secara blak-blakan, hanya tidak menolak jika ada keluhan. Yang sering adalah garansi uang kembali jika ada masalah besar (gear tidak berfungsi, kabel putus, dll) dalam waktu 3 hari.
  • Yang diambil? Tergantung kondisi, tapi biasanya digabungkan.

3 tahap penentuan harga bergantung dari skill pengerjaan sepeda:

  • Buy & sell. Profit: 20-30%. Untuk permulaan bisa mencoba buy & sell. Beli sepeda yang sudah layak jual, dan setelah diambil langsung dipasarkan. Profitnya tidak banyak, tapi ada.
  • Buy, service, sell. Profit: 30-40%. Jika sudah melewati tahap buy & sell, bisa naik ke tahap ini dengan syarat sudah modal alat seperti yang dibahas di poin 4. Cari sepeda yang rusak ringan seperti lampu, rem kurang pakem, ban bocor, atau sekedar berdebu. Tentukan di tempat pengambilan apakah bisa dikerjakan atau tidak. Sampai saat ini saya masih di tahap ini.
  • Buy scrap, total service, sell. Profit: >40%. Untuk yang sudah lama berkecimpung di dunia sepeda atau yang memang hobi, ini pilihan yang menarik. Beli sepeda mati kloter banyak bisa sangat murah. Tapi kondisinya sama sekali tidak bisa dipakai. Bisa jadi rantai, kabel rem, sedel, stang, dll tidak ada. Kalau punya waktu dan alat untuk kerja, tahap ini yang paling menguntungkan.

9. Kolaborasi. Kolaborasi sangatlah penting. Pengalaman saya selama ini, ada 3 jenis kolaborasi:

  • Consortium. Pertama kali dimulai tahun 2016 untuk intake September saat itu. Dimulai dengan teman-teman sesama pemula dan dikawal oleh para senior di bidang sepeda, Kring-kring bikes. Sistemnya adalah semua orang punya sepeda masing-masing yang dikerjakan masing-masing tapi di tempat yang sama untuk saling membantu. Tools sharing bersama. Tiap terjual 1 sepeda harus menyisihkan sejumlah uang untuk pembelian tools. Nilai positifnya adalah bisa saling membantu dan menyemangati. Selain itu, pembeli disajikan dengan lebih banyak pilihan sepeda di satu tempat, walaupun beda penjual.
  • Cooperation. Tiap individu mempunyai tanggung jawab dan expertise masing-masing. Sharing aset dengan cara investasi rata. Ada bagian khusus penjualan dan khusus service. Sistem seperti ini harus jelas pembagian tugas dan bagi hasilnya. Sisi positifnya, doing in what you are good at dengan tetap mendapatkan manfaat penuh.
  • Affiliation. Seperti di Pasar Gelodok. Kalau ada calon pembeli mencari sepeda dengan spesifikasi tertentu dan kita sebagai penjual tidak punya, bisa tanya ke penjual lain. Bisa juga saling merujuk, terutama jika lokasi berbeda (antara UT dan centrum). Nilai positifnya adalah perluasan jaringan pasar.

10. Manajemem resiko. Nah, ini yang membuat orang pikir-pikir sebelum mencoba. Apa saja resiko yang tersembunyi dalam jual-beli sepeda?

  • Sepeda rusak. Saat ambil sepeda, perlu dilihat apakah kerusakan bisa dikerjakan sendiri. Jika tidak, jangan diambil. Permasalahannya adalah kita sebagai orang Indonesia suka segan kalau tidak jadi, atau mungkin karena perjalanannya udah terlanjur jauh sayang ongkosnya kalau tidak ambil. But trust me, kalau tidak pede betulin, tinggalkan.
  • Salah beli? Terlanjur beli yang tidak bisa dibenerin? Ya sudah, apa boleh buat, antara jual rugi atau kanibal. Yang paling penting: Move on! Cari sepeda lain, coba lagi. Tapi jangan ‘balas dendam’ dengan menaikan harga sepeda berikutnya untuk meng-cover kerugian sepeda sebelumnya. Imbasnya ke kekecewaan pelanggan.

11. Lainnya.

  • Masalah hukum juga perlu diperhatikan, memang jual-beli kecil-kecilan seperti ini tidak perlu sampai dilaporkan ke KvK, kecuali mau dilebarkan lagi.
  • Sepeda syubhat/subhat? Tingkat pencurian sepeda di Belanda sangat tinggi, termasuk barang yang paling sering dicuri. Sebagai penjual memang harus hati-hati untuk mengambil barang. Kalau ragu-ragu, tinggalkan. Kalau sudah terlanjur, bisa coba laporkan ke polisi walaupun mereka tidak banyak membantu. Tapi yang paling penting adalah lihat dari sisi hukum agama. 🙂
  • Bonus-bonus. Sangat diapresiasi kalau kita kasih bonus seperti jas hujan. Harganya hanya 50c tapi efeknya besar. Atau set lampu, dikasih kalau sepeda belum ada lampunya, atau buat cadangan.

Mungkin cukup sekian sharing pengalaman berjualan sepeda. Semoga sukses dan berkah dalam jual-belinya. Kalau udah sukses jangan lupa sharing juga. 🙂

Leave a Reply