(Bukan) Sebuah “Selamat Ulang Tahun”

Pada tanggal 1 September kemarin Aini ulang tahun yang pertama. Kebetulan tahun ini bertepatan dengan Idul Adha. Ini pertama kalinya bagi kami untuk ‘merayakan’ ulang tahun anak. Namun kami tidak benar-benar merayakannya. Kenapa? Ada 2 alasan. Pertama, banyak sekali orang mengucapkan ‘selamat’ kepada seseorang yang sedang berulang tahun. Seakan-akan menghabiskan 365 hari kalender masehi adalah sebuah capaian. Hanya dengan duduk diam dan nonton TV selama 1 tahun pun sudah bisa mendapatkan ‘selamat’. Tidak, kami tidak ingin menurunkan standar kesuksesan anak-anak kami menjadi sekedar ‘menunggu waktu’. Akan banyak ujian-ujian yang akan datang yang harus dilewati anak-anak dengan benar-benar sukses. Kedua, sebenarnya yang perlu diucapkan ‘selamat’ adalah ibunya. Kami setuju dengan idenya Mbak Sera, sebenarnya yang sukses selama setahun terakhir adalah ibunya dalam menjaga anak. Tahun ini, ibunya sukses memberikan ASI, sukses memulai MPASI, sukses mengajarkan jalan, sukses mengajarkan makan sendiri, dan terutama sukses melahirkan; dan semua itu sambil kuliah.

Nevertheless, perayaan dan ucapan selamat ulang tahun bukan hal yang negatif juga. Sebuah euphoria yang menarik bagi anak-anak dan bisa menjadi momen yang cocok untuk mengajarkan berbagi. Yang terpenting adalah cara kita menyikapi momen ini. 🙂

Aini pulang dari sholat Id

Leave a Reply