Bersikap Adil (Equity, Equality, Religion)

Lagi-lagi edisi pemikiran persiapan punya anak. Konsep adil apa yang pantas untuk rumah tangga dan sekitar. Bagaimana cara bersikap adil terhadap anak-anak nanti? Sikap yang jelas menjadi penting agar anak-anak tidak bingung maunya orang tua bagaimana. Agar sikap bisa menjadi jelas, harus punya dasar.

Bersikap adil semestinya tidak hanya kepada anak-anak, tapi juga kepada istri, keluarga, orang tua, mertua, tetangga, kerabat, teman, dan masyarakat lainnya. Konteksnya bisa bermacam-macam, mulai dari memberikan waktu dan tenaga, sampai dengan memberikan harta atau bersedekah.

Terus bagian mana yang dipertanyakan? Bersikap adil adalah hal yang wajib terhadap anak:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلادِكُمْ فِي النُّحْلِ، كَمَا تُحِبُّونَ أَنْ يَعْدِلُوا بَيْنَكُمْ فِي الْبِرِّ وَاللُّطْفِ

Bersikaplah adil di antara anak-anak kalian dalam hibah, sebagaimana kalian menginginkan mereka berlaku adil kepada kalian dalam berbakti dan berlemah lembut. [HR. al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra no. 12.003]
Sumber: https://almanhaj.or.id/4153-berlaku-adil-kepada-anak.html

Asumsi yang baik adalah bersikap adil juga berlaku untuk keluarga dan orang lain. Pertanyaannya adalah seperti apa “adil” yang baik?

Tiga konsep adil yang ada di pikiran saya:

  1. Bisa saja kita berbagi waktu, tenaga, pikiran, maupun harta yang sama untuk keluarga kita. Anak pertama, kedua, ketiga mendapatkan waktu perhatian yang sama misalnya. Adil ini adalah kita mengeluarkan jumlah yang rata untuk tiap orang. Konsep equality.
  2. Membuat tiap anak mendapatkan hal yang sama. Contoh paling mudah adalah jika ada anak yang sedang tinggal di Eropa, dan ada anak yang tinggal dengan kita di desa, masing-masing diberi beras semangkok. Harga yang harus dibayar akan beda, jauh. Adil di sini adalah orang mendapatkan jumlah yang sama dari kita. Konsep equity. 
  3. Adil menurut agama. Islam mempunyai hukum yang lengkap untuk segala aspek kehidupan. Pembagian harta warisan contohnya, pembagiannya tidak dihajar rata. Atau mendahulukan antara Ayah dan ibu; orang tua dan istri, istri, istri, dan istri  (tidur di lantai malam ini). Ada juga hadis yang menyebutkan bahwa apa yang diberikan kepada anak-anaknya harus sama:

The specific evidence is the hadeeth narrated from al-Nu’maan ibn Basheer (may Allah be pleased with him), who said that his father brought him to the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) and said: “I have given this son of mine a slave that I had.” The Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) said: “Have you given something similar to all of your children?” He said, “No.” So the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) said: “Then take (the slave) back.” (Narrated by al-Bukhaari; see al-Fath, 5/211).

Sumber: http://www.missionislam.com/family/children.htm

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana bersikap “adil” terhadap keluarga sebelumnya: kakak-adik dan kakak-adik ipar, orang tua dan mertua, paman-tante dan paman tante (mertua?)? Konsep “adil” yang mana yang bisa diterapkan.

One of the perks of being an engineer is to always prioritize safety. In this case the safety concept of the law and relationship; not crossing any ruling and keeping the warmth of the family.

Kesimpulannya? Pengambilan keputusan bergantung pada kondisi. Tinggal bagaimana kita menindak batasan-batasan yang ada. Paling penting adalah mempunyai alasan dan dasar untuk setiap keputusan, dan alangkah lebih baik mempunyai tujuan. 

Leave a Reply