The Key to Life

Pada masa perencanaan untuk mempunyai anak banyak aspek yang dipertimbangkan; nafkah, kesiapan waktu dan tenaga mungkin sudah. Namun ada satu rintangan pikiran yang belum selesai.

‘What is the key to life?’

Sempat membuat diskusi dengan bapak-bapak senior (lebih tua dan berpengalaman punya anak). Kunci dari pendidikan anak banyak yang mengatakan ‘contoh’. Anak akan mengikuti apa yang orang tuanya lakukan, sikapi, berikan, dll. Kelakuan orang tua dalam bentuk apapun akan dicerna dan diserap. Kalau orang tuanya bersikap lemah lembut, ramah, dan sopan, anak akan mengikuti, begitu juga sebaliknya. Walaupun memang tidak selalu 100% sama karena ada faktor-faktor dari luar rumah yang juga berpengaruh.

Sayang, di dalam konsep pendidikan anak di atas ada yang masih mengganjal di pikiran: ‘What if I die tomorrow?’ Siapa yang akan menjadi contoh. Atau kasus yang lain juga, bagaimana jika anak merantau nanti kalau sudah besar. Siapa yang akan dicontohnya? Atau kalau misal tiba-tiba ada bencana, perang, atau apapun. How will my kids survive? Bukan hanya dalam konteks kebutuhan sandang, papan, pangan saja. Namun juga konteks skill, bersosialisasi, beradab, dsb. Semua skenario di atas adalah nyata.

Sebagai seorang engineer (halah) dan ilmuwan (weleh) dua hal yang selalu utama dalam segala bidang: safety first (aman) dan simplicity (kemudahan). Sebuah konsep/ ide yang aman dan mudah dipahami dan bisa ditanamkan kepada anak:

Selalu posisikan diri sebagai orang yang sedang belajar dan bertanggung jawab atas ilmu yang didapat.

Ilmu yang saya maksud di sini sebenarnya lebih ke makna dari kata ‘ilm (علم). Di dalamnya mengandung makna pemahan, kebijaksanaan dan pengalaman.

‘ilm is an all-embracing term covering theory, action and education. The total number of verses in which ‘ilm or its derivatives and associated words are used is 704. (sumber)

Kenapa selalu mencari ilmu? Untuk survive, dalam kondisi kebutuhan primer maupun kehidupan secara umum.

Contoh bertanggung jawab atas ilmu yang dipunya? Tidak menaikkan kaki di atas meja saat di dalam kelas. Di Indonesia ilmu sopan santun seperti ini harus dipatuhi karena begitulah hukum sosial yang ada. Beda dengan di Belanda misalnya, yang boleh pakai kombinasi celana pendek, sandal jepit, naik ke meja sambil makan roti di dalam kelas.

Atau mungkin pengalaman berdagang. Dimana kita harus memberi service yang maksimal agar pembeli meninggalkan tempat akad dengan senang.

Atau jangan tidur lagi sehabis sholat subuh. :p

Atau bahwa untuk sebuah produk inovasi, clockspeed suatu perusahaan harus lebih cepat agar bisa tetap bergerak, dan rantai supply dari untuk pemasarannya harus terintegrasi.

Intinya jangan sampai munafik. Paham tentang suatu hal dengan benar tapi penerapannya nggak ada. *Jadi pengingat untuk saya sendiri.

Leave a Reply