Innocence vs Ignorance

Ternyata konsep bahwa orang akan jadi dewasa kalau sudah (mau) punya anak saya rasa ada betulnya. Pemikiran-pemikiran persiapan bermunculan. Semuanya untuk dan demi anak. Klise ini ternyata juga saya rasakan ada benarnya. Salah satu pemikirannya adalah tentang innocence vs ignorance. Kurang tahu bahasa Indonesia yang cocok tapi begini lah.

Di Indonesia yang mayoritas muslim, kita sudah biasa beli makan dan barang konsumsi lainnya tanpa pikir panjang. Kalaupun mikir, faktor utamanya adalah harga. Semuanya halal. Kecuali kalau tertera dengan gamblang makanan non-halal seperti nasi goreng babi atau bir dll.

Beranjak dari dasar kebiasaan sehari-hari dan faktor lingkungan yang memang wajar, sikap innocent dan ignorant terhadap apa yang kita konsumsi tidak terlihat bedanya, bahkan kepikiran kata-kata itupun belum pernah.

Baru sampai di Belanda ini, sikap keduanya memang beda. Setiap kali mau beli roti, lihat dulu ingridientnya, mau jalan-jalan searching dulu restaurant halal, menemukan suatu kondisi yang baru cari dulu hadisnya.

Batas sikap innocent dan ignorant pun menjadi jelas. Ada usaha.

Di kampung halaman, makan nasi goreng magelangan pinggir jalan yang ayam-ayamnya digantung keliatan bekas tusukan ya makan aja. Nggak mikir kalau cara potong ayamnya salah berarti tidak halal. Kalaupun begitu, ya dosanya ditanggung penjual. Kan di sini yang makan kebanyakan muslim. Bakso dicampur tikus dengan oplosan boraks pun menjadikannya tidak halal, tapi kenapa harus pikir panjang kalau mangkoknya udah di depan mata.

Apakah sikap ini terhitung innocent karena asumsi dan positive thinking bahwa yang jual sate pakai peci dan sarung selalu ke masjid atau ignorant karena asumsi itu sendiri?

Apakah membeli dan menjual kembali dengan akad yang sah sebuah barang menjadi halal kalau asal muasal barang itu tidak jelas statusnya? Ditambah dengan sikap ignorant yang tidak mau tahu.

Di negeri yang mayoritas tidak beragama ini, perbedaannya tegas. Kalau kita bertanya “Does this drink contain alcohol?”, orang sangat menghargai. Menjadikan ignorant sebuah sikap pilihan. Informasi kandungan bahan-bahan yang digunakan di sebuah kotak yoghurt jelas dan lengkap. Sumber daging yang dijual di restaurant-restaurant franchise dapat di-googling dengan mudah.

Kesimpulannya? Mengingatkan saya sendiri untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pura-pura innocent mungkin bisa ditolerir kalau masih SMP. Tapi kalau sudah mau punya anak, sikap seperti itu adalah ignorant, bukan sikap yang baik untuk dicontohkan.

Then again, it’s just my bed-time-mumbling.

Leave a Reply