Kapan Pengeluaran Uang Dikatakan Boros?

Suatu hari kami jalan-jalan ke taman tulip di Keukenhof bersama seorang pejabat. Beliau sedang dinas dan menyempatkan diri untuk bertemu dengan kami. Hangat cerita ngalor-ngidul sampai beliau kepikiran untuk bawa keluarga main ke Belanda juga, tapi pikir-pikir karena harga tiket yang mahal. “Ah, tidak juga kok Om, kalau sedang diskon bisa 5jt PP”. Beliau setengah kaget. “Saya ke sini 60jt sekali jalan”, dibayarin negara tentunya. Gantian kami yang lebih kaget, dan di perjalanan pulang saya berfikir apakah seperti ini bukan salah satu pemborosan anggaran? Tentu harga mahal seperti itu ada karena kelas pesawat yang dibelikan untuk beliau adalah yang bisnis, juga pembeliannya mepet dengan keberangkatan. Namun bukankah hal seperti itu bisa diantisipasi? Apakah investasi negara untuk seorang perjalanan 1x seperti itu bisa memenuhi benefit yang sesuai? Belum lagi rombongan dinas beliau yang tidak sedikit. Apakah 60jt dikali 2 (PP) dan dikali jumlah peserta dan ditambah biaya akomodasi bisa digunakan untuk yang lainnya yang lebih bermanfaat bagi negeri?

Nah, selanjutnya, setelah sekian lama, saya tersandung dengan sebuah idea share di facebook tentang jangan urus keuangan orang lain. Konsepnya adalah jika kita lihat orang lain beli tas harga jutaan, siapa tahu dia sudah menyumbang puluhan juta. Ya, dengan konsep positive thinking terhadap orang lain saya sangat setuju. Namun, kembali lagi ke pertanyaan kapan suatu pembelian/ pengeluaran uang dikatakan boros?

Pelajaran di bangku kuliah sepertinya tidak sia-sia untuk bisa membuat kami berfikir. Berdasarkan rumus dasar ekonomi teknik di bawah ini, asal NPV (net present value) hasilnya lebih besar dari 0 atau perbandingan antara Bx (benefit) dan Cx (cost) lebih besar daripada 1, maka suatu pembelian dikatakan untung (tidak boros). Jika kebalikannya, maka rugi/ boros.
(sumber: Engineering Economics for Capital Investment, http://dx.doi.org/10.1080/00137919208903088)

Ini lah rumus yang kami gunakan sehari-hari untuk membeli barang/ mengeluarkan uang dalam bentuk lainnya. Memang faktor pengaruh terhadap benefit dan cost banyak, seperti kegunaan, masa pakai, musim (liburan atau kerja), afterservice suatu barang, review dari user, lifetime, harga, lokasi, aksesibilitas, biaya tambahan yang akan muncul setelah pembelian barang, dll. Rumus ini muncul dan berlaku karena dana seseorang tidak ada yang unlimited.

Kembali ke kasus perjalanan, mungkin karena pembeliannya mepet, harga tiket pesawat jadi selangit. Yang belum bisa kita lihat adalah benefit dari dinas tersebut. Memang suatu rapat tidak bisa langsung terlihat hasilnya sehari setelahnya. Kita hanya bisa berharap hasilnya dapat membangun Indonesia dengan benar.

Terdengar klise bukan? Karena kita belum punya power untuk mengubah hal di atas. The best we can do adalah memulai dari diri sendiri dan lingkungan yang kita punya pengaruh untuk tidak boros. Kelak saat kita berada di atas, kita bisa tahu mana yang boros dan bisa dihindari dan mana yang memang tepat guna dengan rumus sederhana.

Leave a Reply