Keberangkatan – Bagasi

Akhirnya nulis lagi setelah sibuk dengan persiapan keberangkatan (NOT read: PK) dan sampai di Belanda. Edisi masih jetlag dan belum bisa lanjut tidur.

Bagasi. Sesuatu yang harus dengan baik dipersiapkan karena berkaitan dengan kesiapan kehidupan di Belanda, ongkos (jika kelebihan), kerepotan transportasi, dll.
Kami mempunyai jatah @30kg bagasi dan @7kg bagasi kabin dari Emirates. Sehingga total 60kg ditaruh bawah dan 14kg dibawa ke atas. Sempat ragu apakah bagasi segitu cukup. Setelah beres-beres kontrakan, sortir-sortir barang, dan mengikuti pepatah “kalau tidak cukup, cukupkan” akhirnya cukup juga.
Bagian agak tricky dari bawaan kami adalah jaket winter yang memakan tempat 1 koper kecil sendiri dan kenang-kenangan dari teman-teman tercinta yang membuat susah untuk move on, setengah koper besar.
Selain itu baca-baca di forum-forum seperti tripadvisor kalau Emirates sangat strict dengan aturan bagasi mereka. Ada yang bilang bagasi kabin pun ditimbang.
Tidak lupa juga pembagian barang untuk mengefektifkan aksesibilitas. Mengingat paspor dan tiket akan sering keluar selama perjalanan, kami taruh di backpack. Susu prenagen kotak, cemilan oat meal, uang euro, map dokumen, dan laptop istri juga masuk ke dalam backpack. Jaket winter karena akan kami pakai langsung setiba landing di Schiphol kami taruh di koper kecil, bersama dengan sepatu dan cadangan baju dalam. Buku mewarnai istri ditaruh di tas laptop agar terjangkau juga, walaupun akhirnya hanya dipakai saat di bandara saja.
Isi 2 koper besar terbagi juga. 1 untuk kebutuhan penting kami dari tiba di Belanda sampai 10 hari ke depan karena nebeng rumah dulu sama keluarga super baik dengan anak super lucu, Da Bima dan istrinya Mbak Viki beserta anaknya Ayi. Isinya baju-baju dan perlengkapan mandi.
Koper besar yang kedua berisi pernak-pernik kehidupan yang dibawakan sama teman-teman di Indonesia, dan rendang.

smallDSC03691
Kami juga bawa tas kamera dengan rencana awal bisa foto-foto alay di bandara, tapi ternyata sulit karena bawaan bagasi kabin membutuhkan semua tangan kami.

Bagasi hampir tidak kena pengecekan ketat selain di Soekarno-Hatta karena bawa susu kotak kecil (Prenagen), walaupun akhirnya tetap kami selundupkan. Juga kena stop di Dubai karena bawa “benda mencurigakan”, timbangan digital. Kalau discan xray kelihatan ada pegasnya, mungkin itu yang mencurigakan. Setelah diperlihatkan ke petugasnya akhirnya tetap boleh dibawa.
Sampai di Schiphol sama sekali tidak ada scan xray bahkan satpam yang jaga pintu keluar cuma 2 orang.

by Aden

Leave a Reply