Kuliah – “Privaat”

“Privaat” bahasa Belanda yang artinya sangat mudah ditebak. Itulah yang saya alami di semester pertama ini. “Procurement Strategies and Tendering” yang adalah mata kuliah wajib ternyata disampaiakan dalam bahasa Belanda dan hanya ada 2 orang (termasuk saya sendiri) yang mahasiswa internasional. Kuliah pertama masuk langsung disamperin sama dosennya karena kelihatan paling item “Are you international student? You can get out of my class and we’ll schedule a private session”. Huehue

Jadi sekarang 1 minggu cuma ada 2 jam kuliah “Project Control and Risk Management” dan +/- 1,5 jam sesi personal. Keliatan kayak santai banget. Kuliah cuma ada 2x/ minggu. Bahkan andai bisa dijadiin 1 hari kliatannya kayak 6 hari yang lainnya bisas buat leha-leha streaming film-film terbaru sampai harus cari-cari film lama buat ngisi waktu luang. NO! Anda 50% salah!

Karena pelajaran yang didapat dalam 2 jam di dalam kelas hampir nggak ada. Presentasi harus dipelajari malam sebelumnya (dosen biasanya taruh slidenya di “blackboard” semacam portal akademik kampus). Setelah itu saat di dalam kelas dosen akan menjelaskan ini itu yang hanya kulitnya saja. Setelah itu dikasih tugas besar. Basically yang terdengar seperti ini “Anda harus paham materi A, B, C, silakan kerjakan tugas ini dengan materi-materi itu.” Jadi yang oret-oret di buku tulis adalah kata-kata yang kita tidak paham untuk di-googling youtubing nantinya di rumah. Terasa bersyukur hidup di jaman dimana youtube sudah ada dan belajar di negara yang internetnya joss (download torent pernah lewat 4mb/s di siang hari/ bukan jam tidak sibuk).

Pelajaran privat pun lebih pusingin lagi karena dosennya sendiri nggak paham apa yang mau dia kasih ke kita. Pelajarannya tentang hukum-hukum konstruksi di Belanda dengan bahasa Belanda pula. Too much effort untuk translate semuanya ke bahasa inggris hanya untuk 2 orang yang nggak jelas juga. Jadi langsung dikasih assignment tulis paper tentang procurement di negara masing-masing. Itupun masih dibebaskan mau seperti apa, topiknya juga terserah. Sounds easy tapi sayang saya tidak punya pengalaman di bidang ini yang bisa nulis 30 lembar dalam 1 jam yang bisa mengubah mindset dunia procurement Indonesia. Beda dengan teman sekelas saya yang orang Iran, dia sebelumnya berkecimpung di bidang ini, ditambah bahasa Inggrisnya yang lancar bikin saya kelihatan seperti kacang tempe yang direbus pun belum. Di kelas privat (ruang kerja dosen 3x3m) juga hanya cerita-cerita tentang procurement, sekenanya, geje.

Inilah kehidupan salah satu mahasiswa S2 di Belanda.

Separator image Posted in Random.

2 Comments

Add Yours

Leave a Reply