Pelajaran Pertama Merantau (Jauh)

Pelajaran merantau: Jangan membuat cemas orang tua sedikit pun. Ini yang saya tekankan kepada istri dan saya sendiri. Sebuah kalimat sederhana seperti “Ma, di sini berasnya lagi kurang enak” membuat orang tua berhalusinasi yang aneh-aneh: “Anakku nggak bisa makan nasi di sana, nanti kurang gizi nggak bisa belajar, nanti sakit, terus dokter di sana nggak bisa bahasa Indonesia, terus nanti gimana?!?” Dengan tangan bergetar dan panik, angkat telpon buat kontak teman-teman arisannya tanya gimana ngirim beras ke Belanda. Ternyata mereka malah baru tahu anaknya pergi ke Belanda. Ikut senang dan panik, ditambah “Di sana nggak ada mesjid lho. Mereka yang jajah kita lho, pasti nanti anaknya diperbudak juga. Di sana susah pelajarannya Bu, pakai bahasa Inggris atau malah Belanda. Hati-hati banyak perampok, pencopet, pokoknya Ibu harus bayangin yang serem-serem aja lah.”

Padahal awalnya cuma gara-gara masaknya kebanyakan air.

Secuil cerita di atas tiga perempatnya fiktif tapi atas dasar yang riil.

Being scared is a side effect of the absence of knowledge.

Sudah sejak tahun 2008 kami mulai merantau meninggalkan kampung halaman dan pisah atap dengan orang tua. Pengalaman ke luar negeri sebenarnya sudah pernah, untuk proyek maupun kuliah lapangan, tapi tidak lebih lama daripada dua periode budidaya lele.

Orang tua sudah biasa “ditinggal” untuk suatu kurun waktu. Pulang pada libur semester atau libur nasional. Kalaupun kangen atau kami sakit, mereka tinggal datang ke kami untuk tengok dan jalan-jalan.

Baru tahun ini kami meninggalkan tanah air untuk waktu yang lama. Dengan bekal niat melanjutkan studi dan berumah tangga, Belanda menjadi sebuah tempat singgah sementara. Berbeda 5/6 jam dengan Indonesia membuat perasaan komunikasi agak anehDi sana mau tidur, di sini baru bangun. Rasanya beda dunia.

Menyimpang sedikit, mertua ke luar negeri baru untuk Haji. Definisi “luar negeri” itupun menurut saya hanya batasan administratif, karena dari berangkat, ibadah, dan pulang, lingkungannya orang Indonesia. Istilah luar negeri dan Belanda sangat erat kaitannya dengan kesusahan, penderitaan, dan kata-kata horor lainnya. Mungkin salah satu faktornya karena sejarah Belanda yang pernah jajah Indonesia.

Sekecil apapun rintangan kerikil di jalan, sampai di sana seperti gunung Merapi yang bisa meledak kapan saja. Ditambah dengan posisi kami yang di luar jangkauan untuk ditengok tiap weekend, membuat mereka merasa tak berdaya untuk membantu. Hanya menjadi beban pikiran dan penyubur uban. Apalagi kalau yang pergi anak bungsu, perempuan, sedang hamil yang pertama lagi. Sudah. 

Jadi sekarang kami sangat membatasi berita buruk, bahkan berita sedang. Mau resit ujian atau sakit pun kami cerita setelah semuanya selesai, kalaupun memang harus cerita. Paling banyak yang disampaikan adalah jalan-jalan dan hepi-hepi, di-backup dengan upload foto-foto di facebook. Penderitaan belajar nggak ngerti-ngerti, masak nggak jadi-jadi, dan housing nggak dapet-dapet, semuanya disensor keras.

Leave a Reply