Perbedaan Hamil di Belanda dan di Indonesia

Pada blog kali ini, saya akan coba membahas perbedaan sistem kehamilan di Indonesia dan Belanda. Walaupun saya hanya mencicipi 7 minggu kehamilan di Indonesia, tapi sedikit banyaknya saya mengetahui sistem kesehatan untuk para bumil di Indonesia dari pengalaman kakak dan teman, ataupun baca-baca dari blog lainnya.

Berikut adalah beberapa perbedaan-perbedaan kehamilan di Belanda dan Indonesia :

A. Cost/Biaya

Untuk biaya pemeriksaan kehamilan, biaya melahirkan, dan biaya kraamzorg (akan dijelaskan kemudian) sudah ditanggung sama asuransi. Umumnya, health basic insurance di Belanda sudah termasuk semua biaya keperluan untuk ibu hamil. Jadi, di Belanda, emak-emak disini tidak akan pernah pusing soal biaya, karena mereka semua wajib ikut asuransi dan asuransinya akan menanggung hampir semua biaya kehamilan dan melahirkan.

Kalau kasus saya sedikit berbeda, saya baru mendapatkan asuransi yang menanggung biaya kehamilan pada bulan Juni lalu. Ceritanya panjang, nanti akan saya jelaskan di tulisan yang lainnya. Karena saya sempat tidak ada asuransi yang menangung, jadi saya sempat bayar sendiri beberapa biaya pemeriksaan ibu hamil disini. Bocoran biaya-biaya pemeriksaan ibu hamil di Belanda.

  • Tes pemeriksaan darah (HB, MCv, dll) : 15euro
  • Biaya pemeriksaan pertama kali termasuk USG : 150euro
  • Pemeriksaan rutin: 25euro/kunjungan
  • USG untuk trisemester pertama : 50euro
  •  USG untuk trisemester kedua : 160euro

Untung, sekarang saya ada asuransi yang menanggung, jadi sudah ngk pusing lagi soal biaya pemeriksaan dan melahirkan.

B. Midwife

Hal pertama saat mengetahui kehamilan di Belanda adalah mencari midwife/bidan. Umumnya, di Belanda, semua orang hamil akan ditangani oleh midwife. Hanya kasus tertentu ditangani oleh obgyn, seperti multiple pregnancy (hamil kembar), hamil dengan riwayat keguguran, usia ibu rentan (>40 tahun), hamil dengan hipertensi, dan kasus-kasus lainnya. Kalau kehamilan normal dan standar-standar saja, midwife lah yang akan menangani.

Disini, kita tidak bisa langsung datang ke midwife/obgyn seperti di Indonesia. Sekali kita mendaftar ke midwife, selama kehamilan kita akan terus ditanggani oleh mereka. Kita bisa memilih perusahaan atau tempat praktek midwife, namun kita tidak bisa memilih midwife yang akan memeriksa kita siapa. Jadi tiap kunjungan, midwife yang memeriksa bisa beda-beda juga. Begitu juga dengan obgyn, pemeriksaan oleh obgyn dilakukan di hospital, dan kita tidak bisa memilih mau diperiksa oleh obgyn yang mana.

Ini berbeda dengan di Indonesia, kita bisa memilih dan pindah-pindah dokter ataupun bidan seenaknya dan kapanpun juga.

C. Vitamin & Obat-obatan

Disini jangan harap saat hamil akan diberikan resep vitamin dan obat-obatan apalagi obat penguat janin. Mereka beranggapan kalau kehamilan adalah hal yang natural, dan harus senatural mungkin. Jadi kalau memang janinnya tidak kuat, tidak usah dipaksaan, itu termasuk seleksi alam. Luar biasa memang filosofi orang disini.

Selama kehamilan disini, tidak pernah satu kalipun, midwife dan obgyn meresepkan saya obat-obatan. Saya juga tidak minum vitamin dan obat penguat janin selama di Belanda.

D. Pro Normal

Like I said before, orang-orang di Belanda beranggapan kehamilan dan melahirkan adalah hal yang natural. Mereka sangat pro melahirkan normal. Tidak pernah juga ada kasus, kalau minus tinggi harus di SC. Saya sudah tanya sendiri dengan Obgyn. Mata saya silindris dan minus 5, apakah saya harus SC. Dokternya malah heran, disini mata minus tinggi, bukan menjadi alasan untuk lahiran SC.

E. Melahirkan di Rumah

Katanya 30% orang-orang Belanda melahirkan di rumah. Whaaattt? Ini yang bikin saya kaget. Saat pertama kali kunjungan ke midwife, saya ditanya apakah mau lahiran di RS atau rumah. Saya langsung jawab di RS. Mindset orang Indonesia, anak pertama takut kalau terjadi apa-apa, jadi sebaiknya di rumah sakit saja.

Namun, orang-orang disini banyak yang memilih melahirkan di rumah kok. Katanya, nowhere feels like home. Terus melahirkan di rumah bisa memberikan kenangan tersendiri bagi anak dan ibunya.

F. Langsung pulang

Ini kata midwife dan obgyn saya yah, karena saya sendiri belum lahiran. Setelah melahirkan normal di hospital, 2-3 jam bisa langsung pulang. Unbelieveble ya. Tapi memang begitulah adanya. Kalau melahirkan secara SC, bisa 2-3 hari di RS. Jadi, rumah sakit cuma numpang brojolin aja. Proses recovery akan dilakukan di rumah masing-masing. Mereka juga beranggapan, proses pemulihan tercepat adalah home sweet home. 

G. Kraamzorg

Kraamzorg (maternity care). Ini adalah pembeda antara Belanda and the rest of the world. Kraamzorg itu semacam profesional nurse yang akan datang ke rumah kita minimal 8 hari selama 3-8jam/hari. Kraamzorg akan mengajari kita bagaimana perawatan bayi baru lahir, merawat ibu yang baru melahirkan, membantu pekerjaan rumah, dan sebagianya. Ini juga sudah termasuk health insurance di Belanda, jadi tidak usah bayar. Enak ya, kita diajari oleh profesional nurse tentang perawatan bayi bagaimana. Jadi untuk first time mother like me, it is gonna be a big help.

Ini beberapa perbedaan maternity di Belanda dan Indonesia. Nanti setelah saya melahirkan akan saya update kembali. Ciao.

Leave a Reply