Plus-minus Punya Anak Saat Kuliah

Menjadi orang tua sambil berkuliah sebenarnya susah-susah gampang. People think it’s hard, but for me it is totally doable. Tinggal di Belanda berdua dengan Pak Suami yang super membuat kami harus mandiri, tidak manja, dan tidak bergantung orang tua. Bye bye mbak-mbak yang bisa bantu jagain rumah dan jagain anak (walaupun belum pernah). Bye bye leyeh-leyeh manja kepada mama. Bye bye makanan yang bisa nyampe tiba-tiba pake pak Gojek. Bye bye segala macam kenyamanan dan kenikmatan dekat dengan keluarga dan kemudahan di Indonesia. Tapi jangan salah, menjadi orang tua sambil berkuliah juga punya keuntungannya sendiri. Nah yuk mari kita lihat kelebihan dan kekurangan punya anak sambil berkuliah.

Kelebihan :
• Jadwal lebih santai dibandingkan kerja
Kalau kerja apalagi kantoran setiap hari Senin ampe Jumat dari jam 8-5 sore harus ngantor. Sementara kalau kuliah (di Twente yah ini), schedule kuliah tidak setiap hari paling cuma 3 kali seminggu, paling lama juga 3 jam. Sisanya kerja kelompok, belajar sendiri yang bisa dikerjakan sambil mengurus anak di rumah. Nikmat sekali, bisa berdua dengan suami melihat detik-detik perkembangan anak. Nikmat yang sulit didapatkan kalau bekerja. Alhamdulillah.

• Hubungan suami istri makin mesra
Saya dan suami menjadi super team. Kami mengerjakan semua sendiri mulai dari memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, belanja bulanan dan most of time kami habiskan bersama. Saya merasa hal ini sangat menjaga hubungan saya dengan suami makin mesra. Mengurus anak sambil berkuliah membuat kami harus menjadi team yang kuat dan saling menguatkan, saling mengalah. Hal yang sangat saya syukuri adalah suami saya sangat super. Beliau bisa mengerjakan dan mau mengerjakan semua pekerjaan rumah dan pengurusan anak. Satu hal yang suami saya tidak bisa hanya direct breastfeeding, selain itu Mas Aden bisa handle semuanya sendiri. Saya tidak perlu kuatir meninggalkan Aini bersama suami sendiri saat sedang berkuliah.

Kekurangan :
• Rumah berantakan dan kadang tidak sempat masak
Berdamailah dengan diri sendiri. Ikhlaskan rumah kalau berantakan. Buat ibu-ibu yang perfectionist, rumah harus rapi setiap hari, mungkin hal ini akan menjadi hal yang sangat annoying. Saya juga kadang kalau rumah sudah sangat berantakan, kadang suka marah-marah sendiri. Namun saya selalu mengingkatkan diri sendiri tentang skala prioritas. Prioritas pertama Aini dan Baba Aini. Prioritas kedua adalah kuliah. Rumah dan segala hal-hal kecil menjadi prioritas kesekian. Masak juga kalau sempat aja. Kalau sedang tidak masak, kami catering sama Ibu-ibu Indonesia. Thank you ibu-ibu catering di Enschede. All of you save me and my husband’s stomach.

• Belajar malam hari
Buat saya ini sama sekali bukan merupakan kelemahan. Belajar malam hari memang menjadi andalan saya selama kuliah s-1 dulu. Tapi buat Baba Aini ini merupakan kelemahan. Baba Aini biasa belajar pada siang hari. Kalau Aini sedang dijaga mama, bisa ditinggal main-main sendiri mungkin Baba masih bisa belajar siang hari. Tapi kalau Baba Aini harus menjaga Aini siang hari dan si baby lagi butuh perhatian, terpaksa Baba Aini belajar di malam hari. Which I know it is hard for him. He is not a night person.

Leave a Reply