Pregnancy Diary – First Doctor Visit

Entah kenapa malah saya yang nulis pregnancy diary. Hahah

Kemarin tanggal 3 Maret kami akhirnya dapat bertemu dokter keluarga. Jadi di sini sistemnya adalah tiap orang punya dokter pribadi, eh kebalik tiap pribadi punya dokter yang itu-itu aja selama dia tidak kemana-mana (pulang kampung atau pindah rumah yang tempatnya jauh dari dokter). Dokter keluarga kami ada dalam kampus, semacam UPT kesehatan ITB. Janjian dengan dokter kami lakukan hampir 2 minggu sebelum. Entah kenapa dokternya tidak bisa di minggu kemarin. Susah ya, gimana kalau sakit, 2 minggu udah keburu sembuh. Hahah

Janjiannya juga online di sini campusdoctor.nl. Harus isi nomor asuransi kita juga. Nanti ada pilihan dengan dokter yang mana.

dokter

Kami pilih yang perempuan, mikirnya nanti kalau dicek kehamilan harus buka-buka baju.

Sampai kemarin kami bertemu dokternya, dia sama sekali tidak ngecek apapun tentang kehamilan. Cuma ditanya udah pernah USG sama cek darah? Baru USG saja. Terus dia bikin janjian sama midwife (bidan) yang dapetnya dari googling juga. Telpon kalau pasiennya ada yang hamil dan mau minta periksa. Kami dirujuk ke “Verloskundigen Praktijk Vivre Enschede” karena posisinya yang paling dekat dengan kampus, walaupun itungannya masih jauh. Habis itu udah selesai, dokter sama sekali tidak menyentuh pasien (istri). Kami pulang dengan banyak tanda tanya dalam kepala, salah satunya pulang ya pulang aja, nggak ada pamit sama resepsionisnya buat bayar ato bilang “udah ya bu”. Hahah

Siangnya kami berangkat ke tempat rujukan. Tempatnya adalah gezondheidcentrum (bener nggak ini spellingnya) yang artinya pusat kesehatan. Ada apotek, ada bidan, radiologi, ada sesuatu buat lansia, dll. Praktek bidan di gedung ini ada di lantai 1. Posisinya agak terpencil. Kamar bersalin sepertinya juga cuma ada 1. Websitenya verloskundigenpraktijk-vivre.nl. Baru tahu pas nulis blog ini. *telat

Sampai sana kami daftar diri, hanya kasih ID dan bilang tadi pagi dokternya nelpon. Terus dikasih rujukan tes darah. Formnya mirip-mirip yang di Indo, ada checklist apa aja yang harus dites.

IMG_20160303_142729ed

Kebetulan juga pas kami ada di sana ada ambulance datang buat ngangkut ibu hamil besar. Mungkin mau bersalin tapi perlengkapannya kurang kali ya. Hebatnya lagi, dia sendirian. Tidak ada suami atau orang tua yang nemenin. Antara “wow, mandiri banget perempuan di sini” atau “buset, keluarga di sini tak acuh sama orang mau melahirkan”.

IMG_20160303_142905ed

Bersambung..

2 Comments

Add Yours
  1. 1
    zarah

    wih..sendirian aja ya itu si ibu mau melahirkannya..jadi masih berasa beruntung,,,nunggu lahiran sendiri di RS, suami msh di luar kota.. hahahha, alhamdulillah pas lahir ada suami dateng..

    happy pregnancy ya putri

Leave a Reply