Saatnya (Telat) Beli Mobil

Tujuan postingan ini adalah untuk memberikan gambaran pertimbangan-pertimbangan apa saja yang membuat kami memutuskan untuk (sangat) telat membeli mobil. Dimensi pertimbangan yang kami gunakan adalah biaya, waktu dan fleksibilitas. FYI ini kendaraan pribadi pertama kami (yang dibeli sendiri), baik setelah menikah maupun dari sejak keluar kampung halaman, baik roda 2 maupun lebih.

Biaya tanpa mobil
Awalnya kami berpikiran seperti kebanyakan orang dari Indonesia: “bicycle and public transportation are the cheapest way to go around”. Mengingat di Jakarta naik MetroMini atau TransJakarta seharga Rp 4000 dengan jarak yang lumayan. Selain itu pengalaman tinggal di Jerman dulu juga memberi sugesti bahwa di Belanda ini ada sistem tiket semesteran yang sangat murah. Boy, were we wrong!
1. Memang sepeda menjadi andalan semua orang di sini. Efisien dan menyehatkan. Namun hanya bisa digunakan untuk jarak dekat (kampus-rumah) atau jalan-jalan santai. Harga sepeda bervariasi, namun untuk perhitungan ini asumsikan sepeda yang layak untuk 2 tahun dan low maintenance: 150 Euro (initial cost) + 50 Euro (maintenance, jika tahu cara perbaiki sendiri).
2. Di saat cuaca kurang mendukung (winter, angin, badai) yang mana Belanda terkenal akan hal ini, kami beralih ke public transport kalau perlu ke centrum untuk belanja. Sayangnya oh sayangnya, di Belanda biaya transportasi tidak semurah Jerman. Naik bus 1x seharga 2 Euro ke centrum. Pulang-pergi berdua total jadi 8 Euro. Kalau pakai pemikiran yang masih nyangkut di Indonesia seperti saya, itu jadi 120ribu untuk transportasi santai-santai di suatu sore.
3. Kalau butuh keluar kota menggunakan kereta. kami biasa mencari group ticket. Ini lumayan murah (7 Euro). Mulai jam 9 pagi untuk weekday dan all day untuk weekend. Namun sampai di kota tujuan lagi-lagi menggunakan public transport semacam bus dan tram.
4. Kalau butuh keluar kota di pagi hari, seperti saat ngurus paspor Aini (butuh pagi karena kantor imigrasi buka hanya sampai jam 12) dan mengantar keluarga ke schiphol, terpaksa kami harus menggunakan ticket dengan harga ‘normal’. Biasanya sekitar 25 Euro/ orang ke arah kota-kota besar di barat (Amsterdam, Schiphol, Den Haag). Pulangnya pakai group ticket lagi.
Hitung-hitung semua ini selama sejak kami sampai di Belanda ini, total biaya traveling kami adalah 192 Euro/ bulan (termasuk tiket kalau masuk wisata). (Yes, we do keep track of our expenses). Hampir 3 juta rupiah. Itu hanya biaya transportasi umum, tidak termasuk biaya beli sepeda, dan dengan jumlah itu pun kami termasuk yang jarang jalan-jalan!

Biaya mobil
Surprise surprise! Harga mobil di sini murah sekali (kalau yang bekas)! Awalnya kami kira harga yang tertera di website-website adalah harga uang muka (saking murahnya). Ternyata itu memang harga aslinya.
1. Mobil kami beli dengan harga 1250 Euro (lebih murah daripada Vario baru di Indonesia). Kami anggap ini initial cost yang akan dapat kembali lagi walaupun tidak akan 100%. Semacam tabungan surut.
2. Pajak 28 Euro/bulan dan asuransi 39 Euro/bulan. Jadi sekitar 67 Euro/bulan.
3. Bensin belum tahu biaya per bulannya berapa. Harga bensin di sini fluktuatif tapi sekitar 1,5 Euro/lt.
4. Aksesoris. Ternyata memang harus mengeluarkan uang untuk pernak-pernik mobil, tapi tidak seberapa.
5. Service. Akan ada saatnya mobil harus diservice. Tapi untuk sekarang belum tahu apa dan berapa.
Target cost/bulan untuk mobil 100 Euro. Meleset-meleset sedikit bisa 120 atau bahkan 150. Tapi itu pun masih lebih murah daripada menggunakan transportasi publik.
6. Initial cost untuk SIM: les mobil (wajib) + ujian praktek = 550 Euro. Uji kebolehan = 50 Euro. Tes teori + deklarasi kesehatan = 70,55 Euro. Latihan soal 26 Euro. Uang ini yang tidak bisa kembali. Tapi SIM ini berlaku seluruh Eropa selama 10 tahun dan gosipnya dapat diperpanjang seumur hidup. Faktor harga SIM yang paling berat. Namun ini juga mendorong untuk lanjut studi (biar tidak rugi :p).
7. Administrasi total sekitar 26 Euro (bikin surat keterangan kependudukan dan bikin STNK/ balik nama)

Waktu dan fleksibilitas
Kami baru mempertimbangkan punya mobil saat teman seangkatan masuk kami (sebut saja Mr. A) yang akhirnya membeli mobil. Saat tanya-tanya perkiraan biaya total dll. mulailah kami sedikit menyesal kenapa tidak dari awal saja beli mobilnya.
1. Dari segi waktu untuk ‘BEP’/ balik modal kami belum bisa memperhitungkan, karena mobil baru sampai di halaman housing 3 hari lalu. Nanti akan kami update di post lain suatu saat jika semua perhitungan sudah stabil.
2. Sangat jauh lebih fleksibel. Apalagi kami yang punya anak. Tidak harus tergesa-gesa ‘Bus udah keliatan tuh! Aini pake dulu pampersnya, ceboknya nanti!’
3. Dari segi waktu tempuh lebih cepat sedikit, terutama kalau naik bus harus transit-transit.
4. Kenyamanan juga, tidak perlu jalan dari halte ke tempat tujuan.
5. Bisa bawa barang banyak! Belanja tidak perlu mikir susah bawanya. Walaupun ini bisa membuat kami jadi lebih boros. Tapi juga bisa lebih produktif dengan bisa juga jual barang-barang kami dengan mengantarkan ke pembeli (jadi lebih menarik).
6. Bantu orang. Ini salah satu pertimbangan yang nilainya tinggi di list kami. Ada keuntungan sosial dari punya mobil. Bantu pindah-pindah, bantu belanja, bantu kalau ada acara, bantu kalau ada kejadian, dll.

Kekurangan
Sampai saat ini (3 hari terakhir) kekurangan yang kami rasakan adalah:
1. Mempertimbangkan speed camera. Kalau kena denda akan lumayan mahal. Minimal 40 Euro. Dendanya juga progresif. Makin sering kena denda, makin mahal nilainya.
2. Mencari tempat parkir gratisan. Mahasiswa identik dengan yang gratis. Namun ternyata orang Belanda juga sangat suka dengan parkir gratis, yang sampai memaksa harus parkir jauh dari tempat tujuan.

Nah, pertanyaannya adalah kapan saatnya beli mobil?
Kamu berkeluarga?
Punya anak?
Ingin sering jalan-jalan?
Akan tinggal di Belanda lebih dari 1 tahun?
Punya kebutuhan angkut-angkut barang?
Kalau semua jawaban atas pertanyaan di atas ‘Ya’, kami sarankan beli mobil segera. Kami sangat sadar bahwa mempunyai mobil akan menambah load traffic dan secara lingkungan memang environmentally unfriendly. Tapi bukan untuk gaya, hanya untuk memenuhi kebutuhan berpindah tempat.

Awalnya terlihat ‘wah’ sekali punya mobil di Eropa ini, apalagi kami hanya pelajar. Tapi memang secara perhitungan cost transport lebih murah. Apalagi kami mahasiswa, tertarik sama yang murah-murah. 🙂

Sampai saat ini sekian dulu. Akan diupdate di postingan baru jika sudah selesai semuanya.

Leave a Reply