Usia Transisi

Ternyata di usia yang sedang setengah jalan menuju 26 ini adalah usia transisi. Paling tersadarkan dari sosial media, terutama grup-grup Whatsapp. Ada grup keluarga yang sudah mulai mengharapkan cucu pertamanya, which is on the way. Ada grup keluarga besar dengan om-tante yang mudah percaya dengan informasi apapun dari pesan terusan yang masuk ke HP mereka, dan akhirnya mereka teruskan lagi via Whatsapp. Ada grup kantor yang isinya hepi-hepi setelah dan sebelum gajian. Kagum juga dengan manajemen keuangan mereka yang super-super. Ada grup mahasiswa baru kota yang bercandaannya masih sekitar galau soal jodoh, atau mungkin malah beneran ya? Ada grup kampus yang isinya ngajakin kumpul, party dan mabok. Berdekatan dengan grup pengajian kota .

Belum kalau buka facebook dibanjiri dengan foto kawan-kawan yang baru aja nikah, yang baru mau nikah, yang baru aja punya anak, yang galau belum punya pasangan, dll. Ditambah dengan hiruk pikuk berita permasalahan-permasalahan di kampung halaman yang menuntut untuk diselesaikan.

Kalau ketemu kelompok orang-orang nyata bahasannya sekarang udah ngontrak dimana yang terjangkau dan enak, cara dapetin asuransi gimana, cara ketemu dokter gimana, tempat jual tempe dimana, dan ambil jurusan apa.

Lingkungan di usia segini tidak monoton. Tidak seperti saat kelas 3 SD semua orang mempunyai status yang sama, pemikiran yang sama, bahkan mainannya sama.

Sekarang bisa milih mau mendekatkan diri ke sebelah mana. Memecahkan masalah atau memperbesar. Duduk santai atau ikut bergerak.

Leave a Reply