Italiano with Baby (part 3)

Part 1, Part 2, Part 3

Hari ke-5

Dari Florence kami berangkat ke Pisa pagi-pagi.  Titip barang dulu di hotel karena belum bisa check in, untungnya jaraknya hanya 50 meter dari stasiun. Mulai lagi kami hunting makanan. Menemukan tempat makan ini, dekat stasiun juga. Ada label halalnya juga dan recomended juga di google maps.

Sarapan dulu dan bungkus juga beberapa roti untuk di jalan. Jangan lupa untuk beli coffee latte! Saya sendiri yang bukan penggemar kopi, jadi suka karena di sini enak. Baru kerasa kalau kopi itu bisa enak di sini. *lebayLanjut lagi jalan kaki menuju Menara Pisa. Agak-agak gerimis dan kami beli payung lipat seharga 5 Euro.Welcome to The Leaning Tower of Pisa! Yeay!Sebagai seorang civil engineer awalnya skeptis kalau menara yang terkenal ini miring banget. Tapi ternyata pas lihat sendiri, wow juga.

Tips ambil angle foto yang kelihatan paling miring: perhatikan kolom paling bawah, putari menara sampai terlihat kolom paling pendek/panjangnya ekstrim.
Masih se-area juga dengan menara ini, ada gedung lain yang entah apa isinya tapi orang ramai juga masuk sana. Berhubung kami orang norak dari Indo, maunya cuma lihat menara. Hahah.
Jalan lagi menuju stasiun kecil. Jaraknya sekitar 1.5km dari menara.Nah, jadi ceritanya ada daerah namanya Cinque Terre. Di situ terdapat 5 desa kecil yang menarik-menarik dengan keindahan masing-masing. Desa pertama (kalau dari arah selatan) adalah Riomaggiore. Desa ini terhubung dengan desa kedua, Manarola, dengan jalan ala-ala hiking tepi tebing pantai yang jaraknya hanya 1km. Nah, kami awalnya ingin pakai trek hiking itu. Belilah tiket hanya sampai Riomaggiore. Tapi setelah cek-cek internet, trek itu sedang ditutup sampai April 2021. Dan desa yang menarik adalah Manarola. Ya sudah lah, saya putuskan untuk curang. ‘Toh cuma 1 km ini aja jaraknya’ ‘Naik kereta cuma beda 5 menit’ ‘Cuma selisih 3 Euro ini’ ‘Tiket sudah kebeli juga’. Pemikiran-pemikiran inilah yang berujung maut. Sesaat setelah kereta tutup pintu saat mulai beranjak dari Riomaggiore, tiba-tiba pak kondektor langsung menghampiri kami. Padahal ybs di ujung gerbong, yang penuh dengan wisatawan juga. Entah bagaimana kami ditarget. Semua wisatawan lainnya dilewatinya. Dannnn..singkat cerita..denda. Huff. Jarak 1km kena denda 100 Euro. Mood langsung drop.Lesson learned: kondektor kereta sangat ketat. Mereka sepertinya juga tahu siapa yang harusnya turun dimana. Jangan ambil resiko. Pelajaran berharga (mahal). Hahah

Ini lah yang saya maksud dengan desa yang menarik itu. Sayang pas itu mendung dan gerimis. Kami hanya dapat foto ini (dengan bayar mahal).Setelah itu, berhubung cuaca kurang mendukung, kami langsung menuju ke hotel di Pisa.

Baby notes Pisa dan Cinque Terre: overall ada aja jalan untuk stroller. Beberapa spot jalanannya cobblestone. Kereta untuk ke Cinque Terre udah tua, jadi naik turunin stroller butuh tenaga lebih karena tinggi. Saya rasa weather forecast di Itali tidak sedetail dan seakurat di Belanda, tapi lumayan membantu. Jika kelihatannya akan hujan, jangan lupa bawa payung.

Hari ke-6

Pagi-pagi check out. Menuju Roma! Sampai Roma hujan deras waktu itu. Jadi kami menuju penginapan dengan berbasah-basahan. Sampai di penginapan istirahat dulu berhubung masih hujan di luar. Baju dan celana juga masih basah.

Sorenya kami beranikan diri lagi untuk berangkat menyusuri kota Roma. Lain halnya dengan kota-kota sebelumnya, Roma ini besar. Kami beli tiket terusan 24 jam. Sangat berguna untuk keliling kota.
Tak lupa mengunjungi Colloseum.Oiya, di spot-spot wisata banyak sekali penjagaan militer, lengkap dengan senjata dan kendaraan pengamanannya. Pas itu kebetulan ada mobil nabrak tiang, untuk tidak ada yang terluka parah.Tidak lupa regangkan badan anak.Lanjut menuju daerah tempat tidur kami pakai trem. Lagi-lagi makan di tempat kebab. Yang penting halal. Di sini banyak pilihan makanannya juga sih selain kebab. Saat itu saya merasa janggal karena pegawainya tumben tidak sedang nelpon. Ternyata istrinya yang ada di dapur. LolBaby notes: jalanan Roma rata-rata cobblestone. Ada spot-spot daerah Colloseum yang diaksesnya  hanya dengan tangga, jadi kurang stroller friendly. Jangan lupa bawa bekal karena spot wisata ini besar dan jarak ke tempat makan bisa jauh.

Hari ke-7

Awalnya istri ragu apakah etis kalau kami mengunjungi daerah Vatican. Tapi akhirnya berangkat juga ke sana. Dan ternyata biasa aja. Lapangan besar dengan bangunan-bangunan arsitektur yang bagus. Jangan pikir ada garis ‘batas suci’ yang kalau kita lewatin langsung terbaptis otomatis. Banyak orang-orang imigran yang menawarkan tur keliling juga. Jangan segan untuk menolak kalau memang tidak mau.
Penjagaan polisi Itali.Salah satu sudut Vatican City.Tampak Vatican City dari jauh. Nggak begitu kelihatan memang. Hahah Lanjut jalan lagi dan kami menemukan lapangan ini. Ada air mancurnya dan enak buat lepas anak biar main sama burung-burung. Kebab is life!
Lanjut jalan lagi! Anak tepar. Berhubung udah mati gaya dalam kota, kami melanjutkan perjalanan ke ujung kota. Ini entah dimana. Tapi sampai sana ternyata gerimis dan takut kemalaman. Jadinya cuma jalan-jalan ngasal aja tapi tetap dapat spot-spot menarik.
Daannn..pulang lah kami ke hotel lagi. Metro!Baby notes: overall stroller accesible walaupun goncangannya keras karena cobblestonenya besar-besar. Jadi jangan lupa untuk biarkan si kecil meregangkan badan.

Hari ke-8 (last day)

Pagi-pagi banget kami check out. Ke bandara Rome (Ciampino) menggunakan shuttle bus dekat stasiun. Perhatikan tujuan bandara karena ada 2 bandara di Roma ini. Bus ada tiap 15-20 menit sekali jadi jangan takut kalau ketinggalan masih ada yang lainnya.

Pesawat Roma-Eindhoven. Sampai Eindhoven jam 12 siang dan langsung bergerak pulang. Lelah dengan sejuta memori. 🙂

Special thanks to my super wife for making this once in a lifetime trip possible.

 

Leave a Reply