Perjalanan Pesawat 18 Jam Bersama Bayi

Sabtu, 24 Februari 2018, saatnya kami harus meninggalkan Belanda. Tujuan kami langsung ke Jogja, dengan transit Jakarta tentunya. Total lama perjalanan adalah 18 jam, yang mana 14 jamnya nonstop antara Amsterdam-Jakarta.

Kecemasan-kecemasan pun mulai memasuki pikiran kami, terutama karena kami bawa bayi. ‘Gimana nanti kalau lagi nangis, berisik sekabin, nggak enak sama penumpang lain.’ ‘Gimana nanti kalau mau pup?’ ‘Gimana nanti makannya?’ ‘Boboknya gimana?’ ‘Gimana nanti kalau bosan?’ dll.

Kebetulan yang terencana, keluarga Mas Yasir juga satu pesawat menuju Jakarta. Membawa 2 anak kecil. Ternyata juga satu barisan dengan kami. Kami sayap kiri, mereka sayap kanan. Jadi ada yang bisa dicontoh ceritanya. Hahah

Di bandara Amsterdam itu sendiri sudah lumayan memakan energi karena kerompongan bawa-bawa barang berlebih dan lewat-lewat keamaanan, yang habis itu cincin istri hilang. Walau sampai ruang tunggu energi kami tidak 100%, tapi semangat masih lah. Apalagi bocah hepi-hepi aja naik di atas koper.

Sambil nunggu pesawat, main-main dulu di travelator (eskalator datar) yang ada di bandara. Main-main juga sama Mail.

 

Intinya tahan anak hepi-hepi dulu biar ngantuknya di dalam pesawat aja. Sampai di pesawat kami dapat barisan kiri depan yang leg-roomnya lumayan enak. Ditambah lagi samping kami kosong, jadi kami dapat barisan 3 kursi utuh. Keluarga Mas Yasir juga, di seberang kanan.
Sudah duduk, dikasih sabuk pengamanan buat bayi, dan ditanya sama pramugari bayinya beratnya berapa. Karena basinet (tempat tidur bayi) cuma boleh untuk berat maksimal 9 kg. Aini waktu itu 9.5kg tapi kami masih dikasih. Notes tentang basinet: jangan lupa untuk memesan basinet sebelum berangkat (via telpon atau email). Walaupun kalau tidak pesan, mereka sepertinya punya cadangan. Kalau basinet terpasang, sulit untuk buka-tutup layar TV. Jadi kalau mau dibuka ya tidak bisa ditutup karena terbentur basinet. Tapi kalau sudah tahu caranya, basinet bisa dibongkar pasang sendiri. :p

Dann..perjalanan dimulai dengan nyusu dan bobok walau cuma sebentar. Habis itu dilanjut dengan makanan. Aini dapat jatah makan bayi yang porsinya luar biasa (untuk ukuran Aini). Biasanya makanan botolan aja cuma bisa kemakan 1/3nya. Ini dikasih 2 botolan, pisang, dan snack biskuit. Di paket ‘makan’ itu juga ada popok. Nice.

 

Somehow Aini di pesawat lumayan santai dan hepi-hepi aja, sesekali minta nyusu dan bobok. Kadang ketawa-ketawa sama orang di belakang kami, main-main cilukba.

Sebelum ini kami sempat kepikiran untuk Aini jalan-jalan di pesawat untuk meregangkan badan. Tapi sepertinya itu tidak perlu-perlu amat karena toh masih bisa lompat-lompat dan main-main di atas pangkuan kami.

Saatnya poop. Toilet tersebar di depan dan belakang. Rata-rata semua ada changing table untuk ganti popok. Kalau mau agak leluasa, pilih toilet yang di pinggir pesawat, bukan yang di tengah. Yang di tengah lebih kecil tapi masih gampang juga sih. Oiya, saat ganti popok ajak bayi ngobrol atau ketawa-ketawa karena tempatnya baru dan cenderung sangat sempit dibandingkan di rumah jadi bayi suka merasa tidak nyaman atau tegang dengan suasana baru.

Saatnya bobok. Aini boboknya tipis, maksudnya gampang kebangun, seperti Babanya. Pas waktunya bobok malam di pesawat, dimimikin bentar, dan entah kenapa bisa ditaruh di basinet. Biasanya gerakan dikit aja langsung kebangun. Mungkin karena sudah terlalu lelah. Basinetnya sebenarnya kurang leluasa, kepala kepentok atas. Boboknya jadinya miring dan kakinya ditekuk. Sesekali kebangun, dimimikin, dan ditaruh lagi. Tapi cuma berhasil 2-3x kali. Habis itu lanjut bobok di pangkuan mamanya.

Perjalanan 14 jam ini terlewati. Dengan badan capek tapi yang penting tidak ada kendala. Seperti biasa, beberapa saat sebelum persiapan pendaratan, pilot mengumumkan beberapa informasi, salah satunya yang membuat kita stress adalah ‘suhu udara di Jakarta saat ini 33 derajat celsius’. Padahal kami masih gotong-gotong jaket winter. Waktu berangkat dari Amsterdam real feelnya -8 derajat (suhu aslinya ‘cuma’ 0/-1). Jaket winter terpaksa jadi beban tersendiri dan masuk tas.

Selain itu, pesawat dinyatakan telat, walaupun hanya sebentar. Masalahnya waktu itu saya ‘salah’ beli tiket. Waktu transit yang saya salah pilih hanya 1 jam 45 menit. Kalau lihat review di tripadvisor, waktu transit segitu leluasa. Sayangnya pesawat telat.

Saat pintu pesawat dibuka, kami langsung merasakan hawa panas. Panas yang melelahkan jiwa dan raga. The hotness makes you question how 250 million people can live in Indonesia.

Oiya, kami bawa beberapa oleh-oleh seperti jam tangan dan dompet. Awalnya dipikir akan ada pemeriksaan bea cukai. Untuk keluarga batas maksimum tidak kena bea cukai waktu itu adalah total barang senilai $1000 (untuk perorangan $250). Sekarang sudah berubah, perorangan $500, tidak ada aturan khusus untuk keluarga (sumber). Ternyata juga tidak pemeriksaan, tapi tiap penumpang disuruh isi pernyataan di secarik kertas dari bea cukai. Di serahkan setelah ambil bagasi kepada petugas.

Saya juga sempat tanya teman saya yang pegawai Angkasa Pura, apakah harus ambil bagasi dulu untuk periksa bea cukai. Jawabannya adalah iya, karena pemeriksaan itu wajib. Begitu juga yang tercantum di web Garuda:

Alur transit Garuda dari internasional ke domestik

Sumber: https://www.garuda-indonesia.com/id/id/news-and-events/angkasa-pura-2-dan-ga-siap-melayani-penumpang-domestik-di-terminal-3.page

Ternyata langkah 3-5 tidak ada. Yeay.

Anyway, berhubung sudah tahu kami tidak akan bisa mengejar pesawat sambungan, kami jalan dengan biasa. Menyempatkan ganti baju juga. Habis itu tanya ke counter Garuda yang banyak sekali di terminal 3 ini. Dilempar beberapa kali sampai akhirnya ke kantor CSnya. Next flight penuh katanya. Dannn..kami keluarkan jurus ngemis pake anak. Langsung dibilang ‘Oh, berhubung Bapak bawa anak, saya coba lihat lagi’. Dan kami diberi tiket untuk penerbangan selanjutnya, tapi duduknya terpisah. Tidak masalah, daripada lama-lama di bandara juga ngapain.

Kami berusaha untuk kontak orang tua tapi wifi sangat sulit di terminal 3 ini. Mungkin karena saking banyaknya orang yang pakai. Waktu itu ada stand Telkomsel, tapi tidak ada orangnya.

Masuklah kami ke ruang tunggu. Gate yang kami tuju nomer belasan. Sedangkan masuk ruang tunggunya dari ujung nomer kecil. Antar gate ternyata jaraknya juga jauh. Beruntung ada beberapa travelator. Dan ada juga mobil-mobil golf untuk nganter penumpang. Tapi berhubung kami pikir dekat, kami jalan saja. Dan tentunya Aini juga ingin jalan sendiri. Sampai di gate tujuan, ternyata gatenya pindah ke ujung nomer 24. Beneran ujung mentok terminal 3 ini. Lari-larilah kami ngejar. Aini digendong sambil nangis karena pengen jalan sendiri, dan mungkin karena kepanasan juga.

Sampai di pesawat dengan selamat. Hanya salah satu koper kita yang overload diambil petugas untuk dimasukkan ke bawah. Hahah. Perjalanan Jakarta-Jogja sekitar 1,5 jam. Sampai di Jogja, kepanasan lagi. Keringat bercucuran. Aini lemes tidak bergairah lari-lari. Sambil nunggu bagasi dan bingung cara kontak keluarga, kami bertemu dengan Fauzi, teman TPB kami. Beruntung sekali. Langsung pinjem HP untuk kontak keluarga.

Nah, as not unexpected, ada bagasi kami yang belum sampai. 1 koper dan 2 sepeda. Setelah dilacak oleh petugas bandara, 3 bagasi itu ternyata masih di Schiphol/ sedang dimasukkan pesawat. Bagasi bisa diketahui dari lokasi terakhir dia didata, waktu itu ya di Schiphol. Dinjanjikan oleh pihak bandara kalau bagasinya nanti akan diantar ke alamat. Dan tidak hanya kami saja, ada beberapa penumpang lainnya juga ketinggalan bagasinya.

Dan kami pun dijemput dan pulang. Langsung nyalain AC. :p

Leave a Reply